"Ahlan Wa Sahlan" Irkam Ma'ana fie Safiinatin Najaah .
RSS

Selasa, 10 Juni 2014

Fatamorgana Dunia




وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (64)
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.(Al-Ankabut: 64)
Kehidupan dunia hanya kesenangan sementara, namun banyak yang tidak selamat pada jebakan itu. Nafsu menjadi pengendali hidupnya, hingga tidak pernah ada kepuasan atas apa yang dimiliki. Semua selalu kurang dalam pandangannya.
Mengapa hanya karena untuk memenuhi kebutuhan dunia, manusia rela mengorbankan waktu, tenaga, fikiran? Seolah-olah dunia adalah segalanya? Penyebabnya karena dunia dianggap penting! Semakin orang menganggap penting suatu perkara, maka semakin besar pula pengorbanan untuk mencapai hal tersebut. Demikian pula dengan kehidupan duniawi, hingga ibadah pun biasa saja, sekadar luput dari kewajiban.
Akhwati, ayat di atas menunjukkan betapa dunia ini hanya tempat yang fana, tempat yang akhirnya hanyalah kebinasaan. Bagai orang-orang yang singgah disuatu tempat dan akan melanjutkan perjalanan berikutnya. Ada di antara mereka ada yang mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh, dan di antara mereka menggunakan waktunya untuk bersantai-santai, mereka tidak menyangka bahwa perjalanan selanjutnya aka lebih berat daripada  sebelumnya.
Imam As-Sa’diy dalam tafsirnya menyebutkan bahwa yang dimaksud ayat diatas adalah, hakikat dunia hanyalah penyenang hati dan penuh dengan permainan  serta senda gurau belaka. Dikarenakan Allah menjadikan dunia dengan segala perhiasan, kenikmatan dan syahwat yang menarik bagi hati tamak, mata yang lalai, dan menggembirakan bagi jiwa rusak. Yang mana hal itu semua akan hilang dan berakhir dengan kerugian dan penyesalan.
Sedangkan beliau juga menyebutkan maksud akhirat sebenar-benar kehidupan adalah kehidupan abadi yang seharusnya seseorang mencurahkan seluruh kekuatan  untuk meraihnya, yang mana di dalamnya kesempurnaan nikmat dan kehidupan, penghibur hati, pemuas syahwat, baik makanan, minuman, dan sex. Tidak pernah dilihat dengan mata, didengar oleh telinga, dan terdetik oleh hati manusia sedikitpun. Maka orang-orang yangberakan niscaya akan mendahulukan akhirat mereka daripada kehidupan dunia.
Akhwati kita juga bisa melihat makna yang sama dalam firman Allah yang artinya:
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(Al-Hadid: 20)
Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa dunia mempunyai 5 (lima) sifat, yaitu:
Pertama:  La’ibun (Permainan), yaitu permainan badan dan ini adalah perbuatan anak-anak yang mereka itu menjadikan diri mereka sangat capek dan payah kemudian setelah permainan tersebut selesai tidak ada fiadah yang didapatkan.
Kedua:  Lahwun (Sesuatu yang melalaikan/senda gurau), yaitu yang membuat hati lalai dan ini adalah perbuatan orang tua yang kebanyakan setelah perbuatan yang melalaikan itu selesai, maka tidak tersisa kecuali penyesalan.
Ketiga: Ziinah (Perhiasan), yaitu berhias dalam hal pakaian, makanan, minuman, kendaraan, rumah, istana, kedudukan, dll. Ibnu Abbas berkata, “Maknanya adalah bahwasanya orang kafir sibuk sepanjang hidupnya untuk mencari perhiasan dunia tanpa beramal untuk akhirat.”
Keempat: Saling berbangga di antara kamu yaitu masing-masing dari penduduk dunia ingin membanggakan atas yang lain dan ingin menjadi pemenang dalam semua urusannya dan ingin mendapatkan ketenaran (popularitas) dalam semua keadaannya.
Kelima: Berbangga-bangga tentang harta dan anak, yaitu masing-masing menginginkan dia lebih banyak dari yang lainnya dalam hal harta dan anak. Semua ini hanya terjadi pada diri pecinta dunia dan yang merasa damai dengan dunia. Ibnu Abbas berkata, “Mengumpulkan harta dalam kemurkaan Allah dan membanggakan harta terhadap wali-wali Allah serta mengeluarkan harta dalam perkara-perkara yang mendatangkan murka Allah maka dia menjadi kegelapan yang bertumpuk-tumpuk.” Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat orang yang mengalahkanmu dalam perkara dunia, maka kalahkan dia dalam hal akhirat.”
Maka dari itu bagi mereka yang lupa bahwa dunia merupakan tempat sementara dan mereka yang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah, tetapi merasa puas dengan permainan dunia dan kesenangan hidup, menganggap memiliki diri mereka sendiri, serta menuhankan diri sendiri, Allah akan memberikan hukuman yang berat. Al-Qur`an menggambarkan keadaan orang yang demikian,
Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (An-Nazi’aat: 37-39)
Wallahu a’lam bish showab.




Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Tsurayyya