وَمَا
هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ
لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (64)
Dan
tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan
sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.(Al-Ankabut: 64)
Kehidupan dunia hanya kesenangan sementara,
namun banyak yang tidak selamat pada jebakan itu. Nafsu menjadi pengendali
hidupnya, hingga tidak pernah ada kepuasan atas apa yang dimiliki. Semua selalu
kurang dalam pandangannya.
Mengapa hanya karena untuk memenuhi kebutuhan
dunia, manusia rela mengorbankan waktu, tenaga, fikiran? Seolah-olah dunia
adalah segalanya? Penyebabnya karena dunia dianggap penting! Semakin orang
menganggap penting suatu perkara, maka semakin besar pula pengorbanan untuk
mencapai hal tersebut. Demikian pula dengan kehidupan duniawi, hingga ibadah
pun biasa saja, sekadar luput dari kewajiban.
Akhwati, ayat di atas menunjukkan betapa dunia
ini hanya tempat yang fana, tempat yang akhirnya hanyalah kebinasaan. Bagai
orang-orang yang singgah disuatu tempat dan akan melanjutkan perjalanan
berikutnya. Ada di antara mereka ada yang mempersiapkannya dengan
sungguh-sungguh, dan di antara mereka menggunakan waktunya untuk
bersantai-santai, mereka tidak menyangka bahwa perjalanan selanjutnya aka lebih
berat daripada sebelumnya.
Imam As-Sa’diy dalam tafsirnya menyebutkan
bahwa yang dimaksud ayat diatas adalah, hakikat dunia hanyalah penyenang hati
dan penuh dengan permainan serta senda
gurau belaka. Dikarenakan Allah menjadikan dunia dengan segala perhiasan, kenikmatan
dan syahwat yang menarik bagi hati tamak, mata yang lalai, dan menggembirakan
bagi jiwa rusak. Yang mana hal itu semua akan hilang dan berakhir dengan kerugian
dan penyesalan.
Sedangkan beliau juga menyebutkan maksud
akhirat sebenar-benar kehidupan adalah kehidupan abadi yang seharusnya
seseorang mencurahkan seluruh kekuatan
untuk meraihnya, yang mana di dalamnya kesempurnaan nikmat dan kehidupan,
penghibur hati, pemuas syahwat, baik makanan, minuman, dan sex. Tidak pernah
dilihat dengan mata, didengar oleh telinga, dan terdetik oleh hati manusia
sedikitpun. Maka orang-orang yangberakan niscaya akan mendahulukan akhirat
mereka daripada kehidupan dunia.
Akhwati kita juga bisa melihat makna yang sama
dalam firman Allah yang artinya:
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah
permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu
serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan
kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada
azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia
ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(Al-Hadid: 20)
Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa dunia
mempunyai 5 (lima) sifat, yaitu:
Pertama: La’ibun (Permainan), yaitu permainan
badan dan ini adalah perbuatan anak-anak yang mereka itu menjadikan diri mereka
sangat capek dan payah kemudian setelah permainan tersebut selesai tidak ada
fiadah yang didapatkan.
Kedua: Lahwun
(Sesuatu yang melalaikan/senda gurau), yaitu yang membuat hati lalai dan ini
adalah perbuatan orang tua yang kebanyakan setelah perbuatan yang melalaikan
itu selesai, maka tidak tersisa kecuali penyesalan.
Ketiga: Ziinah (Perhiasan), yaitu
berhias dalam hal pakaian, makanan, minuman, kendaraan, rumah, istana,
kedudukan, dll. Ibnu Abbas berkata, “Maknanya adalah bahwasanya orang kafir
sibuk sepanjang hidupnya untuk mencari perhiasan dunia tanpa beramal untuk
akhirat.”
Keempat: Saling berbangga di antara kamu yaitu
masing-masing dari penduduk dunia ingin membanggakan atas yang lain dan ingin
menjadi pemenang dalam semua urusannya dan ingin mendapatkan ketenaran
(popularitas) dalam semua keadaannya.
Kelima: Berbangga-bangga tentang harta dan
anak, yaitu masing-masing menginginkan dia lebih banyak dari yang lainnya dalam
hal harta dan anak. Semua ini hanya terjadi pada diri pecinta dunia dan yang
merasa damai dengan dunia. Ibnu Abbas berkata, “Mengumpulkan harta dalam
kemurkaan Allah dan membanggakan harta terhadap wali-wali Allah serta
mengeluarkan harta dalam perkara-perkara yang mendatangkan murka Allah maka dia
menjadi kegelapan yang bertumpuk-tumpuk.” Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,
“Apabila kamu melihat orang yang mengalahkanmu dalam perkara dunia, maka
kalahkan dia dalam hal akhirat.”
Maka dari itu bagi mereka yang
lupa bahwa dunia merupakan tempat sementara dan mereka yang tidak memperhatikan
ayat-ayat Allah, tetapi merasa puas dengan permainan dunia dan kesenangan
hidup, menganggap memiliki diri mereka sendiri, serta menuhankan diri sendiri,
Allah akan memberikan hukuman yang berat. Al-Qur`an menggambarkan keadaan orang
yang demikian,
“Adapun orang yang
melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya
nerakalah tempat tinggal(nya). (An-Nazi’aat: 37-39)
Wallahu a’lam bish showab.








0 komentar:
Posting Komentar